Selamat Datang di Blog-nya Yoga!

Welcome to Yoga's Blog!

Kegiatan Perikanan di Pelabuhan Ratu

Posted by Yoga Indra Purnama on May 27, 2009

Rantai Produksi Perikanan Tangkap

Di Palabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Oleh:

  1. 1. Putri Septembriani
  2. 2. Sumisih
  3. 3. Yoga Indra Purnama
  4. 4. Dimas Utomo
  5. 5. Aurismardika Novesa
  6. 6. Fitrie Hardyanti
  7. 7. Supartinah
  8. 8. Himatun Faoziyah
  9. 9. Ikma Ratna Puspita
  10. 10. Ulfa Fairus

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANA DAN ILMU KELAUTAN

ISTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

  1. Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Pelabuhan perikanan adalah tempat dimana kegiatan-kegiatan pendaratan ikan, pelelangan ikan, dan tempat transaksi jual beli ikan terjadi. Pelabuhan perikanan merupakan salah satu mata rantai penting dalam proses rantai transportasi ikan. Ikan-ikan yang telah ditangkap di lautan lepas akan dikumpulkan di pelabuhan perikanan sebelum dilelang atau dijual ke konsumen. Dari sinilah, ikan-ikan berbagai mutu didaratkan dan diseleksi berdasarkan mutunya untuk menentukan harga jual ikan tersebut. Pelabuhan perikanan di Indonesia dibagi menjadi empat tipe berdasarkan kuota kapal dan komoditas ikan yang masuk. Empat tipe tersebut adalah pelabuhan perikanan samudera (PPS), pelabuhan perikanan nusantara (PPN), pelabuhan perikanan pantai (PPP), dan pantai pendaratan ikan (PPI). Salah satu pelabuhan perikanan nusantara adalah Pelabuhan Ratu yang terletak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pelabuhan Ratu merupakan pelabuhan perikanan nusantara yang melayani pendaratan kapal hingga 90 GT, dan merupakan salah satu tempat pusat pelelangan ikan. Berbagai komoditi ikan ada disana, namun komoditi ikan yang paling dominan adalah ikan jenis tuna (Thunnus sp.) dan layur (Trichiurus sp.), dan merupakan komoditas ekspor andalan dari Pelabuhan Ratu.

Pelabuhan Ratu merupakan salah satu unsur penting dalam pemanfaatan potensi perikanan di Indonesia. Potensi perikanan Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Secara keseluruhan mencapai 65 juta ton, yang terdiri dari 7.3 juta ton pada sektor perikanan tangkap dan 57.7 juta ton pada sektor perikanan budidaya. Namun, baru 9 persen atau sekitar 6 juta ton yang sudah dimanfaatkan. Hingga saat ini Indonesia menempati urutan ke 12 untuk negara pengekspor produk perikanan. Posisinya berada di bawah Vietnam dan Thailand yang sebenarnya memiliki sumber daya terbatas dan jauh di bawah Indonesia. (www.tempointeraktif.com).

1.2 Tujuan

  1. Mengetahui dan mempelajari kegiatan di tiap mata rantai produk perikanan tangkap di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.
  2. Mengetahui berbagai hal mengenai karakteristik bahan baku yang terdapat di pelabuhan ratu.
  1. Isi

2.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara

Pelabuhan Ratu digolongkan sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) karena memiliki kriteria PPN seperti di bawah ini:

  • Melayani kapal berukuran ≥ 30 GT (wilayah laut teritorial dan ZEEI);
  • Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal berukuran ≥ 30 GT (panjang dermaga ≥150 m, kedalaman kolam ≥  –3 m);
  • Menampung ≥ 75 buah kapal perikanan;
  • Produksi 30 ton/hari;
  • Ikan yang didaratkan sebagian untuk tujuan eksport
  • Memiliki lahan dengan luas ≥ 15  Ha
  • Memiliki laboratorium pengujian mutu hasil perikanan
  • Terdapat industri perikanan

Pelabuhan Ratu dibangun sejak tahun 1990 dengan luas kolam 3 hektar, dioperasionalkan tahun 1993 dan tahu 1998 mendesain kolam baru dengan luas kolam 2 hektar. Pelabuhan Ratu memilki dua macam kolam yaitu kolam yang berfungsi untuk penambatan kapal yang ukurannya < 30 GT seperti pancing, rawai, gillnet dan payang serta kolam untuk penambatan kapal yang ukurannya > 30 GT seperti long line. Pembangunan yang akan didirikan dalam waktu dekat ini adalah penambahan dua kolam dengan luas 3 hektar yang dapat mengoperasikan kapal lebih dari 3 GT. Fasiltas tambahan lainnya seperti perluasan darmaga, kawasan industri, laboratorium untuk pengujian mutu, formalin dan histamin. Adapun rencana kegiatan tahun 2009, yaitu pembangunan pasar ikan, renovasi gedung TPI dan K-3. Selain itu ada rencana pembangunan tahun 2010, meliputi pembangunan depo pasar dan los pasar.

Adapun fungsi pelabuhan perikanan menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : PER.16/MEN/2006  antara lain

  • Pelayanan sandar & labuh kapal perikanan dan kapal pengawas perikanan
  • Pelayanan bongkar muat
  • Pelaksanaan pembinaan mutu & pengolahan hasil perikanan
  • Pemasaran dan distribusi ikan
  • Pengumpulan data tangkapan & hasil perikanan
  • Pelaksanaan penyuluhan & pengembangan masyarakat nelayan
  • Pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan
  • Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumber daya ikan
  • Pelaksanaan kesyahbandaran
  • Pelaksanaan fungsi karantina ikan
  • Publikasi hasil riset kelautan dan perikanan
  • Pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari
  • Pengendalian lingkungan (kebersihan, keamanan, dan ketertiban (K3), kebakaran dan pencemaran).

PPN Pelabuhan Ratu memiliki peranan sebagai berikut:

  1. Efisiensi Biaya Operasional Usaha Penangkapan
  2. Meningkatkan harga jual hasil tangkapan
  3. Pertumbuhan industri
  4. Penyerapan tenaga kerja
  5. Peningkatan Pendapatan Nelayan
  6. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Sumber daya manusia yang ada di Pelabuhan Ratu pada umumnya merupakan lulusan S1 dan ada juga lulusan  yang hanya sampai SMA. Sedangkan sumber daya alamnya termasuk tinggi. Namun tidak setiap hari mendapatkan hasil tangkapan untuk menjaga sumber daya tetap ada.

Potensi Sumber Daya Ikan

Pelabuhan Ratu merupakan tempat pendaratan ikan yang paling aktif di Jawa Barat. Pendaratan ikan di daerah ini telah berkembang pesat dari tahun ke tahun. Perairan ini merupakan penghasil tuna dan cakalang yang besar. Siregar (1980) mengungkapkan bahwa dari berbagai jenis ikan yang tertangkap di Perairan Pelabuhan Ratu, ikan cakalang merupakan ikan yang dominan tertangkap, selanjutnya tuna dan tembang.

Luas daerah penangkapan ikan pelagis dan demersal di Pelabuhan Ratu adalah 2.376 km² dengan kepadatan stok 6.273 ton/km². Besarnya sumber yang terdiri dari ikan-ikan pelagis, demersal dan udang adalah 25.049 ton dengan potensi lestari sebesar 12.530 ton. Keadaan potensi perikanan laut di Perairan Pelabuhan Ratu dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Potensi Perikanan laut di Perairan Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi,            Jawa Barat.

Jenis Sumber Luas daerah penangkapan ( x 10³ Km²) Kepadatan stok (ton/Km²) Potensi lestari

( x 10³)

Pelagis

2.376

3.873

4.180

Demersal

2.376

2.400

2.850

Udang

-

-

5.500

Sumber : Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi

Ikan tuna dan cakalang cukup banyak ditemui di Perairan Cilacap sampai selatan teluk Pelabuhan Ratu. Pelabuhan Ratu merupakan teluk yang berhubungan langsung dengan Samudra Hindia dengan produktivitas perairan yang tinggi sesuai dengan sifat-sifat perairan tropis. Pelabuhan Ratu merupakan perairan yang subur karena berwarna hijau sebagai indikasi keberadaan plankton yang menentukan kesuburan suatu perairan. Hambatan yang sering dijumpai di Pelabuhan ini adalah angin dan gelombang yang terkadang datang secara tiba-tiba. Meskipun usaha penangkapan di teluk Pelabuhan Ratu dapat dilakukan sepanjang tahun, tetapi hanya pada musim Timur (Mei-Oktober) yang menguntungkan, sedangkan untuk tuna dan cakalang terutama pada musim kemarau.

Usaha penangkapan tuna dan cakalang di Pelabuhan Ratu umumnya dilakukan oleh nelayan setempat dengan menggunakan alat tangkap pancing, payang, dan drift gillnet. Pengoperasian payang dilakukan hanya di sekitar mulut teluk atau sedikit ke teluk berjarak 15-20 mil dari pantai, sedangkan drift gillnet beroperasi disekitar mulut teluk sampai ke Samudra Hindia. Untuk meningkatkan produksi kedua jenis alat tangkap ini, alternatif yang dipilih adalah dengan memperjauh jarak penangkapan, yaitu ke Samudra Hindia.

Pada musim Barat, kapal-kapal nelayan yang berukuran kecil jarang turun ke laut karena kondisi perairan dan cuaca yang buruk. Hanya kapal diesel misalnya kapal rawai cucut permukaan yang melakukan penangkapan. Pada musim ini para nelayan rawai cucut cenderung mengalihkan daerah operasi penangkapannya (fishing ground) ke perairan sebelah barat pulau Sumatera. Perairan tersebut misalnya perairan sekitar Bengkulu, Kepulauan Mentawai, Pulau Enggano dan lain-lain. Beberapa kapal ada juga yang beroperasi ke perairan selatan pulau Jawa sampai Pacitan, Cilacap, Pangandaran, Pamengpeuk dan lain-lain. Pada musim Timur banyak nelayan yang turun ke laut. Pada musim ini kapal rawai cucut terutama beroperasi tidak jauh dari fishing base Pelabuhan Ratu. Sebagian besar nelayan beroperasi ke perairan selatan Jawa dan beroperasi jauh dari garis pantai.

Hasil Tangkapan

Ikan-ikan yang biasa didaratkan di Pelabuhan Ratu antara lain : ikan teri gelagar, salem, bawal hitam, bawal putih, marlin, kani, sotong, cumi-cumi, berbagai jenis udang, lobster dan lain-lain. Ikan-ikan tersebut ditangkap dengan alat tangkap yang berbeda-beda. Hasil tangkapan untuk masing-masing ikan juga berbeda antar nelayan bergantung hasil tangkapannya. Umumnya para nelayan menggunakan es untuk penanganan ikan. Ikan-ikan tersebut dijual dan dipasarkan dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp10.000/Kg untuk ikan teri sampai Rp 80.000/Kg untuk bawal putih.

Alat tangkap payang di Pelabuhan Ratu menangkap ikan-ikan pelagis terutama dari jenis-jenis tongkol (Auxis Sp.), ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupkan hasil tangkapan yang terbesar dan pada umumnya tertangkap sepanjang tahun. Ikan tongkol abu-abu tertangkap sepanjang tahun, sdangkan hasil tangkap maksimum terjadi antara bulan Mei-November. Jenis tongkol yang lain adalah Lisong (bahasa nelayan Pelabuhan Ratu).

Daerah penangkapan di Pelabuhan Ratu meliputi seluruh perairan teluk Pelabuhan Ratu dengan radius 20 mil sampai 30 mil, mulai dari ujung Genteng  sampai Binuangan. Arah arus di perairan teluk Pelabuhan Ratu tidak tentu sepanjang tahunnya, biasanya pada bulan November dan Desember aah arus menuju ke barat laut. Kecepatan arus umumnya rata-rata sedang. Musim ikan pelagis khususnya jenis-jenis tongkol dan cakalang sebagai tujuan utama penangkapam ikan dengan jaring payang terjadi pada bulan Juni-Oktober.

Berdasarkan data produksi ikan di PPN Pelabuhan Ratu tahun 1993-2008 digambarkan pada Grafik 1.

2.2 Bongkar Muat

2.3  Tempat Pelelangan Ikan

Grafik 1. Perkembangan Produksi Ikan di PPN Pelabuhan Ratu Periode Tahun 1993-2008

Berdasarkan data pada Grafik 1 diketahui bahwa produksi ikan terus meningkat sampai tahun 2005 . Kemudian terjadi fluktuasi, yaitu mengalami penurunan tahun 2006 dan tahun 2008 dan meningkat pada tahun 2005 dan 2007. Produksi ikan tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 13.500.000. Produksi ikan setiap harinya sebesar 37,114 kg.

Berdasarkan data statistik distribusi ikan PPN Pelabuhan Ratu tahun 2008 adalah sebagai berikut:

Tabel 1 Distribusi ikan PPN Pelabuhan Ratu

Ikan dari Luar PPNP Lewat Jalur Darat Ikan Didaratkan Langsung di Darmaga PPNP
Ikan Segar Ikan Pindang Ikan Asin Proses Lainnya
3.169.979 kg 897.484 kg 513.220 kg 4.256.260 kg

Jumlah produksi ikan PPN Pelabuhan Ratu pada tahun 2008 sebesar 8.836.943 kg. Produksi ikan ini secara umum dipasarkan ke Pelabuhan Ratu sendiri, Sukabumi, bandung, Cianjur, Ccurug, Bogor, Jakarta, Banten, Jawa Tengah dan ekspor. Produksi proses lainnya semuanya dipasarkan di Pelabuhan Ratu saja.

Komoditas utama yang menjadi produk unggulan di Pelabuhan Ratu adalah ikan tuna, layur dan cucut. komoditas ini pada umunya didistribusikan ke Jakarta, selain itu diekspor ke Korea dan Jepang. Ikan yang diekspor dengan cara dibekukan dengan tingkat kesegaran yang tinggi sedangkan ikan yang mutu rendah dijadikan ikan asin dan ikan pindang, tetapi dengan mutu roduk yang layak dikonsumsi. Produk ini dipasarkan ke Jakarta, Banten, Pelabuhan Ratu dan sekitarnya. Ada 4 perusahaan yang terdapat di pelabuhan ratu dan perusahaan yang terbesar yaitu PT AGB Pelabuhan Ratu.

Dalam rangka percepatan pengembangan industri pengolahan hasil perikanan di Indonesia melalui pengembangan usaha penangkapan ikan secara terpadu, Menteri Kelautan dan Perikanan merevisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: PER.17/MEN/2006 menjadi Peraturan Menteri Nomor:PER.05/MEN/2008 tentang Usaha Perikanan Tangkap. Dalam revisi peraturan tersebut, pembangunan perikanan tangkap didorong untuk meningkatkan status Indonesia dari negara produsen bahan baku menjadi negara industri perikanan yang dapat menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Hasil revisi juga cenderung lebih bernuansa desentralisasi dengan diserahkannya kewenangan perpanjangan izin penangkapan ikan diatas 30 GT kepada Gubernur.
Sebelumnya, kehadiran Permen Nomor: PER.17/MEN/2006 telah berhasil mendorong peningkatan investasi usaha perikanan. Adanya revisi diyakini dapat mempercepat upaya peningkatan investasi usaha perikanan sebagaiman salah satu tujuan lahirnya. Upaya Pemerintah dapat dilakukan melalui meningkatkan ketersediaan prasarana pendukung, sedangkan investasi dari pihak swasta terutama untuk pengembangan industri perikanan tangkap, baik pada kegiatan hulu, proses produksi maupun kegiatan hilir. Berbagai kegiatan pembangunan perikanan tangkap dilakukan melalui upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha perikanan yang diarahkan untuk meningkatkan konsumsi, penerimaan devisa dan meningkatkan penyediaan bahan baku industri.

2.2 Bongkar Muat

Kegiatan bongkar muat di PPN Pelabuhan Ratu diawali mulai dari ikan yang ditangkap dan berada di penyimpanan kapal diangkat kemudian didaratkan. Setelah itu ikan disortasi berdasarkan jenis, berat dan ukuran. Di tempat itu juga ikan yang dimanfaatkan bagian dari tubuhnya dilakukan di tempat itu juga dan tempat pelelangan, seperti pemotongn sirip ikan hiu. Komoditas ini merupakan komoditas utama untuk tujuan ekspor, seperti ke Jepang. Aktivitas bongkar muat yang terjadi di PPN Pelabuhan Ratu biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari, terutama ikan hiu dan tuna, hal ini dilakukan agar ikan tidak terkena sinar matahri supaya bahan baku tersebut bermutu baik. Alat tangkap bantu yang digunakan berupa rumpon.

Pada umunya komoditas yang terdapat di TPI, yaitu layur, tongkol, tuna, cakalang dan lobster. Jumlah ikan yang diekspor mencapai 800 ton. Produk ekspor ini tinggi, misalnya Perusahaan PT AGB mampu mengekspor sekitar 20 peti kemas. Presiden Direktur PT Asia Great Business Kim Tae Sik mengatakan, prospek pasar Korea sangat menjanjikan. berkapasitas 40 ton. Salah satu komoditas yang sering diperoleh yaitu ikan tuna sirip kuning yang biasa ditangkap berjarak 80 mil dari laut menggunakan pancing layang-layang. Setelah tertangkap, ikan tersebut didinginkan dengan es curai karena jumlahnya yang banyak dan membutuhkan penanganan yang cepat agar mengurangi kemunduran mutu lebih awal. Rantai pendinginan terhadap ikan ini ditangani dengan baik. Kapal penangkap yang digunakan biasanya berlayar selama 2-3 hari.

2.4 Tempat Pelelangan Ikan

TPI atau tempat pelelangan ikan merupakan tempat dimana terdapat penjual dan pembeli untuk melakukan kegiatan melelang ikan hasil tangkapan. Setiap harinya di lokasi ini banyak dijual ikan-ikan segar dari  berbagai pantai yang terdapat disekitar pelabuhan ratu, baik itu hasil tangkapan dengan menggunakan alat pancing maupun jaring. Komoditas yang biasanya ditemukan adalah tuna, ikan  yellowfin tuna, bigeye tuna, cucut, tongkol, marlin, bawal, pari, layur, salem, semar, teri, pepetek, baracuda, ikan sebelah, udang, cumi-cumi, kepiting dan lain-lain. Alat tangkap dominan yang digunakan untuk menangkap jenis ikan  meliputi : Jaring insang hanyut dan Pancing rawai (perawe-long-line). Kualitas yang dimiliki komoditas tersebut adalah sebagai bahan baku ekspor dan pemanfaatan pengolahan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Pelabuhan Ratu. Usaha pengolahan ikan di Pelabuhan Ratu, dilaksanakan dengan dua cara, yaitu cara sangat sederhana dan cara yang sudah maju. Cara yang sederhana menggunakan teknologi maupun pengetahuan pengolahan penunjang, sedangkan cara yang sudah maju, menggunakan tenga mesin (mesin penghancur bumbu dan mesin penyortir).

Sistem pelelangan ikan yang digunakan adalah sistem penjualan dengan tujuan untuk meningkatkan harga jual. Namun terdapat kelemahannya, yaitu terkadang tidak adanya modal untuk menetapkan harga yang sangat tinggi sehingga sebagian penjual menerapkan system “opau” yaitu komoditas tersebut dibeli oleh pemilik sendiri. Pelelangan yang dilakukan seperti pelelngan ikan pada umunya yaitu ikan didaratkan dari kapal, dikumpulkan lalu disortasi menurut jenis, berat dan ukuran, dibersihkan atau dicuci dan terakhir dilakukan pelelangan. Pembeli yang datang saat pelelangan berasal dari Pelabuhan Ratu itu sendiri, perusahaan, penduduk yang sengaja singgah misal dari Jakarta, Sukabumi, Banten dan sekitarnya.

Tata cara pelaksanaan pelelangan ikan TPI Pelabuhan Ratu (Mahyuddin 2007) :

  1. Setelah pemilik kapal melaporkan kedatangannya ke petugas pelabuhan, maka pemilik kapal akan mendapatkan nomor urut pendaratan dermaga.
  2. Setelah ikan didaratkan di dermaga didepan TPI, pemilik kapal harus melaporkan kepada petugas TPI.
  3. Ikan dicuci dengan air laut, kemudian dipisahkan menurut jenis dan ukuran untuk menentukan harga, dimasukkan kedalam keranjang yang disediakan oleh pengelola TPI.
  4. Ikan ditimbang oleh petugas TPI, kemudian ikan yang sudah ditimbang mendapat label/karcis yang berisikan nama pemilik dan nomor urut lelang.
  5. Para bakul/pembeli dijinkan untuk melihat ikan-ikan yang akan dilelang
  6. Lelang dilaksanakan secara terbuka dan bebas. Penawaran dimulai dengan harga terendah. Penawaran tertinggi dinyatakan sebagai pemenang dan menjadi pembeli ikan yang dilelang. Pemenang lelang dicatat dalam karcis lelang.
  7. Bakul sebagai pembeli membayar tunai hasil pembeliannya kepada petugas TPI ditambah biaya retribuís lelang sebesar 3 %. Apabila pembayaran tidak tunai, maka harus ada persetujuan dari manager TPI.
  8. Pihak TPI membayarkan hasil pelelangan kepada nelayansetelah dipotong retribusi sebesar 2 %
  9. Kemudian ikan masuk ke ruang pengepakan untuk selanjutnya didistribusikan ke luar TPI.

Ikan yang dilelang adalah ikan yang memiliki nilai jual yang tinggi seperti ikan tuna dan sirip ikan hiu untuk mendapatkan harga yang tinggi. Mutu ikan yang ada di TPI masih segar sehingga menarik perhatian pemebeli. Waktu pelelangan biasanya dilakukan tergantung hasil tangkapan yang didapatkan oleh nelayan.

Sebelum dilakukan pelelangan, ikan disortasi atau dibedakan berdasarkan jenis, ukuran dan beratnya. Selain ikan utuh yang disortasi juga bagian tubuh ikan, misalnya sirip ikan hiu. Sortasi dilakukan di lantai dengan keadaan sanitasi yang kurang dan tidak higienis.

Penanganan komoditas yang ada di TPI dilakukan tanpa memperhatikan sanitasi. Saat pemotongan pada bagian tubuh ikan, seperti ikan hiu terjadi perdarahan dan tidak dilakukan bleeding. Proses bleeding yang seharusnya dilakukan ini bertujuan untuk mengeluarkan darah agar daging lebih steril karena di dalam darah terdapat bakteri, terutama dilakukan pada ikan hiu. Menurut Wibowo (2006) mengatakan bahwa ikan hiu tidak mampu mengeluarkan urea dari dalam tubuhnya akibatnya, urea terpaksa ditimbun di dalam darah. Begitu ikan mati, urea dalam darah diubah oleh bakteri menjadi amoniak. Amoniak inilah yang berbau pesing, bahkan berbahaya bagi kesehatan. Untuk menjaga kesegaran ikan dan menghambat kemunduran mutu dilakukan pengesan, yaitu es balokatau es curai.

2.4 Pengumpul (Lobster)

Di wilayah sekitar Pelabuhan Ratu terdapat pengumpul lobster yang tidak jauh dari pelabuhan. pengumpul lobster ini berfungsi untuk mengumpulkan lbster dari hasil tangkapan nelayan. Selain itu terdapat juga kepiting, tetapi jumlahnya lebih sedikit daripada lobster. Lobster yang ada terdiri dari empat jenis, yaitu : lobster mutiara, lobster pasir hijau, lobster bambu, dan lobster batu atau lobster hitam. Lobster yang paling bagus mutunya dan harganya tinggi adalah lobster mutiara karena lebih enak dan disukai masyarakat, serta memiliki warna yang menarik. Produksi lobster meningkat pada bulan Agustus-September karena biasanya lobster mengalami pemijahan saat bulan tersebut sehingga melimpah.

Pemilik lobster mempunyai ± 12 petak kolam yang berisi lobster, dengan luas sekitar 2 x 3 meter perpetak yang disusun secara berundak-undak. Air yang digunakan adalah air laut dengan ditambahkan pasir laut sebagai penyaring. hai ini dilakukan sebagai aerasi agar kualitas air tetap terjaga. Sirkulasi air terus dilakukan untuk menjaga kandungan oksigen yang cukup bagi lobster. Menurut Bachtiar, 2006 apabila kualitas air tidak bagus, lobster malas makan sehingga pertumbuhannya terhambat. Makanan lobster yang diberikan adalah udang segar.

Sistem pengumpulan lobster diawali dari pengumpulan lobster hasil tangkapan nelayan yang sedikit, lalu digabungkan di kolam-kolam berdasarkan jenis sampai jumlahnya sesuai dengan banyaknya pesanan dan stok. Lobster yang sudah terkumpul banyak lalu didistribusikan atau diekspor. Negar tujuan ekspornya yaitu ke Jepang, Cina, Korea, Amerika, Malaysia dan Hongkong. Selain diekspor, lobster ini ada juga yang didistribusikan ke Jakarta.

2.5 Cold Storage

Cold storage atau penyimpanan beku berarti meletakkan produk yang sudah beku di dalam ruangan dengan suhu yang telah dipertahankan sama dan telah ditentukan sebelumnya (misalnya -250C). Pengawetan ikan dengan pembekuan (dengan suhu sampai -500C) akan mampu menghentikan kegiatan mikroorganisme. Pada suhu di bawah -100C proses pembusukan oleh bakteri terhenti. Pembekuan dan penyimpanan beku (cold storage) adalah cara terbaik untuk penyimpanan jangka panjang. Bila cara pengolahan dan pembekuan baik dan bahan mentahnya masih segar, maka akan dihasilkan ikan beku yang dicairkan (thawing) keadaannya masih mendekati sifat-sifat ikan segar. Membekukan produk sampai pada suhu -180C merupakan perlakuan bahan dalam industri pendinginan ikan. DAPUS

Bakteri pembusuk hidup pada suhu antara 0-30 C dengan suhu optimal 15 C. Bila suhu diturunkan dengan cepat sampai 0 C, maka proses pembusukan akan terlambat. Pada suhu ini, kegiatan bakteri berhenti sama sekali, sedangkan kegiatan enzim-enzim perusak telah lebih dahulu terhambat. Dasar-dasar inilah yang digunakan untuk pengawetan ikan dengan pendinginan termasuk pembekuan.DAPUS Cold storage yang terdapat di Pelabuhan Ratu diseting dengan suhu minimum -250C dan suhu freezer -100C.

Komoditas yang dibekukan hanya ikan layur saja. Terdapat sebuah cold storage dan dua buah freezer yang memiliki kapasitas muat yang berbeda-beda.

Kemunduran mutu yang terjadi pada ikan dari aktivitas enzim maupun bakteri dapat ditekan dengan adanya penurunan suhu. Peranan cold storage adalah ketika suatu bahan baku dalam keadaan segar dibekukan dan disimpan pada suhu yang dijaga tetap dingin, kemunduran mutu dapat diperlambat hampir seluruhnya. Beberapa kemunduran mutu pada ikan selama pembekuan tetap berlangsung namun dalam jumlah yang kecil.

Temperatur yang ideal untuk menjaga agar kemunduran bahan baku dapat diperlambat adalah -20°C karena pada suhu ini aktivitas bakteri benar-benar dapat ditekan dan aktivitas enzim berlasngsung sangat lambat. Beberapa bahan baku perikanan yang bahkan dapat disimpan pada suhu yang lebih tinggi dalam waktu yang singkat, namun karena bahan baku tidak dapat selalu terjaga pada storage sesuai waktunya, maka suhu -20°C lebih aman digunakan kapanpun (www.fao.org/wairdocs, 2009).

Pada cold storage sekalipun mutu ikan akan mengalami kemunduran mutu, lama kelamaan penampakan dan rasa ikan akan mengalami kemunduran mutu. Ikan yang dibiarkan mati akan lebih cepat membusuk dibanding ikan yang segera mati (keadaan sangat segar). Faktor-faktor pembatas pada cold storage yang mengakibatkan hal ini adalah Perubahan oleh kandungan lemak, protein, dan dehidrasi (freeze burn). Kandungan lemak ikan yang teroksidasi ditambah oleh enzim pada daging ikan yang terkumpul dapat mempercepat reaksi pembusukan. Perubahan ini terjadi pada suhu yang lebih tinggi dan kecepatan reaksinya dipengaruhi oleh bahan kimia tertentu seperti garam, yang mungkin meningkatkan aktivitas enzim (www.fao.org/wairdocs, 2009).

Keadaan ikan sebelum dimasukkan dalam cold storage dilakukan penanganan pembersihan ikan dengan sanitasi yang terjaga agar mutu ikan sesuai untuk kualitas ekspor. Setelah penanganan, lalu dikemas dalam plastik khusus kemudian dimasukkan dalam cold storage.

2.5 Unit Pengolahan Ikan

  1. 10. Industri Ikan Pindang

Pemindangan adalah pengolahan ikan yang dilakukan dengan cara merebus ikan dalam susana bergaram selama waktu tertentu. Dalam proses pemindangan, ikan (juga udang dan kerang) diawetkan dengan cara mengukus atau merebusnya dalam lingkungan bergaram dan bertekanan normal, dengan tujuan menghambat aktivitas atau membunuh bakteri pembusuk maupun aktivitas enzim. Jenis ikan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pemindangan adalah ikan air laut seperti Tongkol (Euthynus sp.), Tenggiri (Scomberomorus sp.), Kembung (Scomber sp.), Layang (Decapterus sp.), dan ikan air tawar, misalnya Mas (Cyprinus carpio) dan Nila (Tilapia nilatica) serta ikan air payau, misalnya Bandeng (Chanos chanos) (Fatfluk,2008). Pada industri ikan pindang yang ditemukan di Pelabuhan Ratu, bahan baku utama menggunakan ikan tongkol dari hasil rumpon. Hal ini disebabkan ikan hasil rumpon memiliki daging yang putih, bertektur kenyal dan tubuh ikan bulat utuh. Industri pindang ikan di Pelabuhan Ratu mampu memproduksi pindang tongkol sebanyak 800 badeng/bulan, 1 badeng maksimal 35 kg. Pemasaran dan distribusi hasil pindang ikan dipasarkan ke pasar-pasar wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, seperti Sukabumi, Cianjur ,dsb. Harga yang dipatok untuk 1 badeng dengan isi 35 kg pindang tongkol adalah Rp. 450.000,00. Pemerintah daerah cukup memberikan andil dan perhatian untuk usaha-usaha skala home industry. Kontribusi pemerintah yang telah diberikan untuk usaha ini antara lain penambahan sarana dan prasarana. Selain itu, pemerintah juga melakukan kontroling dan monitoring setipa 3 bulan sekali. Hal-hal yang dijadikan penilaian dari pemerintah adalah kualitas produksi, pemasaran dan hambatan yang dihadapi.

  1. 11. Industri Bakso Ikan

Bakso ikan adalah produk bernilai tambah berupa campuran homogen daging, tepung pati dan bumbu yang telah mengalami proses ekstrusi dan pemasakan. Cara pembuatan baso tidaklah sulit. Daging digiling halus dengan screw extruder, kemudian dicampur dengan tepung dan bumbu di dalam alat pencampur khusus sehingga bahan tercampur menjadi bahan pasta yang sangat rata dan halus. Setelah itu pasta dicetak dan dilakukan perebusan sampai matang. Baso yang bermutu bagus dapat dibuat tanpa penambahan bahan kimia apapun, namun produksi dari pabrik bakso ikan di Pelabuhan Ratu tersebut masih menggunakan bahan tambahan berupa MSG. Pabrik bakso ikan di Pelabuhan   Ratu baru saja berdiri dan hasil produksinya mulai dipasarkan ke                    distributor-distributor di Jabodetabek dan wilayah sekitarnya.
Ikan yang digunakan adalah ikan yang berukuran sedang dan besar, seperti ikan marlin dan tuna. Kondisi ikan haruslah segar, karena akan mempengaruhi tekstur dan citarasa dari bakso. Ikan segar yang baru ditangkap merupakan ikan yang paling baik untuk digunakan. Ikan yang akan dijadikan baso lebih baik dibekukan secara cepat sebelum digiling. Ikan beku akan memberikan rasa dan aroma baso yang lebih gurih. Bahan yang digunakan ialah tepung tapioka atau tepung aren, namun untuk menghasilkan bakso yang berkualitas baik digunakan tepung aren.

Peralatan utama yang digunakan pada pengolahan bakso ialah  penggiling dan pencampur. Alat ini terdiri dari bagian penggiling baso berupa extruder dan pencampur adonan. Pencampur adonan berupa piring baja yang dilengkapi pengaduk sentrifugal yang dipasang mendatar. Pengaduk tersebut berutar dengan kecepatan tinggi sehingga bahan-bahan yang tidak liat dan tidak keras akan dihancurkan. Adapula alat berupa ketel perebus yang digunakan untuk merebus baso mentah menjadi matang. Pengusaha baso biasanya menggunakan panci sebagai ketel perebus. Proses pendahuluan pembuatan bakso dilakukan dengan penyiangan dan filleting. Kemudian dilanjutkan dengan penggilingan ikan menjadi adonan bakso. Pengadukan dianggap selesai jika terbentuk adonan yang rata dan halus.

Pembuatan bulatan bakso mentah dilakukan dengan menggunakan alat khusus dan perebusan bulatan adonan secara cepat dimasukkan ke dalam air mendidih di dalam ketel perebus. Bakso yang sudah matang kemudian ditiriskan, dan dilakukan penyimpanan bakso di dalam ruang pembeku (freezer) yang sebelumnya telah dilakukan  pengemasan plastik tertutup rapat dengan menggunakan vacuum. Suhu freezer hendaknya di bawah –18 ° C agar bakso ikan dapat tahan lama.

2.6 Reatiler

Menurut para penjual di tempat pelelangan ikan didapatkan beberapa informasi mengenai beberapa hasil tangkapan. Terdapat beberapa hasil tangkapan di tempat pelelangan ikan, diantaranya adalah ikan hiu, ikan tongkol, ikan tuna, ikan semar, ikan salem, ikan bawal, ikan cucut, cumi-cumi, rajungan dan ikan layur. Penjual ikan hiu mengatakan bahwa sirip ikan hiu dapat dijual dengan harga sampai dengan 1 juta per kg, tetapi ikan hiu dan ikan cucut  sudah ada pemesan sebelum ikan tersebut tiba di pelelangan ikan. Bobot tubuh ikan hiu ini berkisar antara 46-50 kg. Ikan cucut selama penjualan tidak dibekukan melainkan hanya menggunakan es. Ikan yang paling banyak ditemui di tempat pelelangan ikan pelabuhan ratu adalah ikan tongkol, karena hasil tangkapan bias sampai 1 ton per hari. Ikan tongkol ini dijual sampai 1 minggu, selama waktu penjualan tersebut ikan diawetkan dengan menggunakan es.

Nelayan penangkap tuna biasa menggunakan pancing atau jaring sebagai alat tangkapnya, selain tuna ikan yang didapatkan dengan alt tangkap pancing antara lain adalah ikan layur, tongkol, dan ikan cuwe. Untuk mendapatkian ikan tuna biasanya memerlukan waktu 1 hari, 3 hari, 1 minggu sampai dengan 2 bulan. Ikan tuna yang telah didapatkan kemudian diekspor ke Negara Korea dan Taiwan. Sistem penjualan ikan tuna adalah “sistem tembak” atau dijual berdasarkan harga yang tertinggi. Mutu ikan tuna sudah mulai membaik apabila diproses harus diamati terlebih dahulu apakah didominasi oleh daging merah atau daging putih.Untuk pengawetan ikan tuna sudah menggunakan cold chain system, untuk alatnya didapatkan dari propinsi dan pusat. Ikan salem biasanya dijual dalam keadaan beku karena waktu penjualannya mencapai 1 minggu.

Menurut penjual cumi-cumi, cumi-cumi ysng terdapat di TPI pelabuhan Ratu bukan berasal dari pelabuhan ratu melainkan berasal dari Jakarta yang dikirimkan ke TPI ini dalam keadaan beku untuk kemudian dijual. Pembeli cumi-cumi (6 ekor-8 ekor/kg) ini biasanya berasal dari rumah makan sekitar pelabuhan ratu.

Aktivitas pelelangan di pelauhan ratu ini selama 12 jam. Penyimpanan ikan dibedakan berdasarkan jenisnya saja, baik menggunakan air laut maupun menggunakan es. Berbagai bentuk olahan ikan yang dijual diantaranya adalah ikan utuh akan diekspor, ikan melalui proses pengasinan, pemindangan, dan ikan layaran biasanya dijadikan abon ikan. Harga ikan ayam-ayam adalah  Rp.20.000,00/kg, kepiting Rp.45.000-50.000/ekor, ikan marlin 20.000/kg.

Menurut para pedagang ikan di tempat pelelangan ikan di pelabuhan ratu, jenis ikan yang dijual ditentukan oleh pelelangan itu sendiri. Sering terjadi pengurangan jumlah ikan yang dijual dari hasil tangkapan semula, missal hasil tangkapan awal 10 ton setelah masuk pelelangan jumlah ikan berkurang menjadi 8 ton. Hal ini dikarenakan sisa ikan tersebut dijual sendiri oleh para nelayan diluar pelelangan. Ikan yang masuk ke pelelangan dikenai oleh pajak yang besarnya ditentukan oleh pengelola pelelangan berdasarkan jumlah orang yang menjual ikan tersebut.

  1. Penutup

Kesimpulan

Komoditas utama yang menjadi produk unggulan di Pelabuhan Ratu adalah ikan tuna, layur dan cucut. Selain itu terdapat juga hasil perikanan lainnya, misalnya kakap, bawal, tongkol, cumi-cumi, lobster, udang, marlin dan lain-lain. Komoditas ini pada umunya didistribusikan ke Jakarta, selain itu diekspor ke Korea dan Jepang.

Mata rantai dari bahan baku hasil perikanan mulai dari penangkapan-bongkar muat-pendistribusian. setelah itu bahan baku dapat diolah menjadi berbagai produk panagn, seperti bakso dan pindang. produk ini dipasrkan ke Sukabumi, Banten, Jabodetabek dan sekitarnya.

Saran

Penanganan hasil perairan sebaiknya lebih menerapkan prinsip-prinsip C3Q sehingga bahan baku yang dihasilkan akan menjadi lebih baik kualitasnya. Bahan baku yang ada seharusnya lebih dimanfaatkan lagi menjadi produk olahan yang berkualitas.

About these ads

7 Responses to “Kegiatan Perikanan di Pelabuhan Ratu”

  1. Aksar said

    selain menerapkan prinsip C3Q, kita juga harus mempertahankan “sistem rantai dingin”, agar ikan bisa tetap segar ketika akan diolah

  2. Andri Dwi said

    bagaimana cara yang efektif untuk mempertahankan kelangsungan penerapan sistem C3Q?

  3. Dyah Kusumawardani said

    Aq PNS di KKP (Itjen) mau mengadaakan penelitian untuk tesis, apakah PPN Pelabuhan Ratu bisa bantu ?

  4. surya said

    kami menginginkan nama pengepul ikan tuna segar hasil tangkapan samudra hindia di wilayah pelabuhan ratu

  5. Awani said

    sip

  6. Awani said

    sip tulisannya sangat inspiratif

  7. RATNA said

    PT AGB PELABUHAN RATU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: